CONTOH PROPOSAL PENELITAIN - IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) PADA PASIEN HIPERTENSI

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD AMBARAWA PERIODE 1 JANUARI – 31 DESEMBER 2016

Proposal Penelitian
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1



Diajukan oleh:

Devi Maya Anggraeni
20144215A




Kepada
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
Oktober 2017


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Hipertensi merupakan penyakit degeneratif  yaitu penyakit yang diakibatkan karena fungsi atau struktur dari jaringan atau organ tubuh yang secara progesif  menurun dari waktu ke waktu karena usia atau karena pilihan gaya hidup (Subroto 2006). Prevalensi penderita hipertensi di dunia terus meningkat sangat banyak. Di india mencapai 60,4 juta orang pada tahun 2002, di China mencapai 98,5 juta orang pada tahun 2002 dan di Indonesia mencapai 15 juta orang . sekitar 20% dari semua orang dewasa menderita tekanan darah tinggi dan angka ini terus meningkat (Junaidi 2010).
Menurut World Health Organization (WHO), nilai yang dianggap merupakan garis batas hipertensi (borderline hypertension) yaitu jika nilai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 95 mmHg. Batasan dari WHO tersebut tidak tergantung usia dan jenis kelamin (Kusuma 2009).
Karakter penyakit hipertensi bersifat timbul tenggelam yang berarti tekanan darah penderita bisa normal dalam waktu tertentu. Penderita hipertensi mengasumsikan hal ersebut sebagai tanda kesembuhan, sehingga penderita menghentikan pengobatan. Penghentian pengobatan menyebabkan penderita tidak dapat mengendalikan tekanan darah dalam batas normal (Priece & Lorraine 2006).
Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Prevalensi hipertensi sebesar 29,8% secara nasional menduduki peringkat tertinggi dibanding penyakit stroke (8,3%) dan jantung (7,2%) (Soendoro 2008 ).
Suatu penelitian menunjukkan bahwa 59% pasien hipertensi mengalami DRPs pada pengobatannya (Garcao and Cabrita 2002).
DRPs (Drug Related Problems) merupakan suatu keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata mempengaruhi hasil terapi yang diharapkan (Bemt and Egrberts 2007).
            Penelitian ini, rumah sakit yang akan diteliti adalah RSUD Ambarawa. Dengan alasan di rumah sakit tersebut kasus penyakit hipertensi banyak diderita pasien. Berdasarkan catatan medik di RSUD Ambarawa , penderita hipertensi dari periode 1 Januari hingga 31 Desember 2016 sebanyak 124 pasien dan menduduki peringkat ke delapan dari keseluruhan kasus di RSUD Ambarawa. Berdasarkan uraian diatas, perlu dilakukan penelitian pada pengobatan hipertensi  pasien rawat inap di RSUD Ambarawa terhadap kemungkinan terjadinya Potentian Drug Related Problems (DRPs).
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimana angka kejadian hipertensi terhadap usia dan jenis kelamin di RSUD Ambarawa ?
2.    Jenis DRPs apa saja yang terjadi pada pengobatan hipertensi di RSUD Ambarawa ?
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah :
1.    Mengidentifikasi angka kejadian hipertensi terhadap usia dan jenis kelamin di RSUD Ambarawa.
2.    Mengidentifikasi DRPs apa saja yang terjadi pada pengobatan hipertensi di RSUD Ambarawa.
D.    Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah :
1.    Bahan masukan bagi pihak Daerah RSUD Ambarawa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya dalam mencegah DRPs yang terjadi pada pengobatan hipertensi.
2.    Sumber informasi tentang jenis DRPs yang terjadi pada pengobatan hipertensi di RSUD Ambarawa.
3.    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti maupun peneliti lain untuk melakukan studi penggunaan obat khususunya mengenai jenis DRPs yang terjadi pada pengobatan hipertensi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Hipertensi
1.        Definisi
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diatolik 90 mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan (Chobanian, Brakris, Brack, Cushman, Green and Joseph, 2003). Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC) VII mengklasifikasikan tekanan darah untuk usia 18 tahun ke atas menjadi empat kelompok yaitu tekanan darah normal, prehipertensi, hipertensi tingkat 1, dan hipertensi tingkat 2. Pasien yang tekanan darahnya berada dalam kategori prehipertensi memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibanding dengan orang yang tekanan darahnya lebih rendah (Chobanian, et al., 2003).
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Pasien > 18 Tahun Menurut Joint National Committee VII (Chobanian, et al., 2003).
Klasifikasi Tekanan Darah
Tekanan Darah Sistolik (mmHg)
Tekanan Darah Diastolik (mmHg)
Normal
< 120
< 80
Prehipertensi
120 – 139
80 – 89
Hipertensi Tingkat 1
140 – 159
90 – 99
Hipertensi Tingkat 2
≥ 160
≥ 100







2.        Penyebab
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi hipertensi essensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi essensial atau primer adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya, biasanya disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Bukti epidemiologis menunjuk pada faktor genetik dan pola gaya hidup yang diduga sebagai penyebab terjadinya hipertensi essensial (William, 2001). Hipertensi dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Meskipun demikian munculnya hipertensi lebih berhubungan dengan pola hidup bukan keturunan. Pola hidup antara lain stress, asupan garam, dan alkohol (Clarke and Hebron, 1999).
Berbeda dari hipertensi essensial, hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya. Penyebabnya adalah penggunaan obat yang dapat meningkatkan tekanan darah, sebagai contoh kortikostreroid, sibutramin, eritropoetin. Penyebab lain adalah penyakit penyerta seperti ginjal, endokrin (Chobanian, et al., 2003).

3.        Patofisiologi
Pengaturan tekanan darah dikontrol oleh saraf simpatis.Baroreseptor perifer yang mendeteksi adanya perubahan yang mengirim pesan ke pusat kardiovaskuler di otak bagian medula. Hal ini akan memacu safat untuk mengubah tekanan darah. Stimulasi pada adrenoreseptor β1 dijantung akan meningkatkan kontraksi jantung. Stimulasi pada adrenoreseptor β2 dalam arteri mengakibatkan vasodilatasi, sedangkan stimulasi pada adrenoreseptor α1 diarteri mengakibatkan vasokonstriksi (Saseen dan Carter, 2005).
Pengaturan tekanan darah juga dipengaruhi ginjal memalui sistem renin angiotensin – aldosteron. Renin merupakan enzim yang diproduksi di juktaglomerular. Jika ada perubahan tekanan darah di ginjal dan berkurangnya kadar natrium, klorida, kalium maka renin akan dilepaskan dari juktaglomerular apartus. Renin akan mengubah angiotensinigen menjadi angiotensin I didalam darah, kemudian diubah menjadi angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym (ACE). Angiotensin II menyebabkan vasokontriksi. Angiotensin II juga dapat menstimulasi sintesis aldosteron dari adrenal korteks sehingga terjadi peningkatan tekanan darah (Saseen dan Carter, 2005).

4.        Faktor risiko hipertensi
Berikut adalah faktor risiko hipertensi :
4.1. Usia mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambah usia risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar. Hal ini dikarenaka oleh perunahan struktur pembuluh darah besar yang menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik tersebut (Karyadi 2002).
4.2. Keturunan (Genetik) Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan    menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi (Merliani et al 2007).
4.3. Jenis Kelamin Hipertensi lebih banyak terjadi pada laki – laki pada usia dewasa muda dan banyak menyerang perempuan setelah usia 55 tahun. Laki -  laki memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah seperti merokok dan konsumsi alkohol. Perempuan mengalami kenaikan tekanan darah karena berkurangnya hormon setelah monopouse sebagai pelindung pembuluh darah dari kerusakan (Merliani et al 2007).
4.4. Merokok dan konsumsi alkohol. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah disebabkan oleh peningkatan kerja jantung. Nikotin dalam rokok merangsang hipertensi, meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kebutuhan oksigen jantung. Konsumsi alkohol menyebabkan peningkatan sintesis katekolamin yang dalam jumlah besar dapat memicu kenaikan tekanan darah (Laurence 2002)
4.5.  Obesitas. Berat badan yang berlebihan menyebabkan bertambahnya volume darah sehingga beban jantung untuk memompa darah juga bertambah (Karyadi 2002).
4.6. Dislipidemia. Merupakan kadar lemak dalam darah. Kenaikan dapat berupa kadar kolesterol total, kolesterol LDL, Trigliserida, dan penurunan kolesterol HDL (Karyadi 2002).


4.7. Konsumsi garam. Garam menyebabkan pengumpulan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan diluar sel karena tidak dikeluarkan sehingga akan meningkatkan volume tekanan darah (Karyadi 2002).
4.8. Stress. Dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stress sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali (Karyadi 2002).

5.    Komplikasi hipertensi
Berbagai macam komplikasi dapat timbul akibat menderita tekanan darah tinggi dalam jangka waktu panjang atau waktu yang lama. Komplikasi yang ditimbulkan dapat berupa: otak (stroke), jantung (pembesaran otot  jantung , gagal jantung untuk memompa darah), ginjal (gagal ginjal), dan mata (gangguan penglihatan).
            Pada hipertensi ringan dan sedang komplikasi jantung koroner lebih sering ditemukan dibanding komplikasi lain yang timbul akibat hipertensi berat. Komplikasi yang lain adalah terpengaruhnya dinding pembuluh darah arteri. Arteri yang terkena adalah otot jantung, aorta, dan pembuluh darah otak. Dinding pembuluh darah itu mengalami penimbunan lemak, karena lemak yang seharusnya dapat dihancurkan, menjadi menetap akibat fungsi pembuluh darah yang sudah rusak. Akibat pembuluh darah tersebut mengalami pengapuran dan tidak elastik (kaku). Jika hal ini dibiarkan maka dapat terjadi pembekuan darah. Ini sangat berbahaya, karena terjadinya di otak yang dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian tubuh, bahkan kematian secara tiba – tiba (Schwinghammer & Terry 2006).
6.   Pengobatan hipertensi
Dalam pengobatan hipertensi ada 2 cara yaitu pengobatan secara non farmakologi dan pengobatan secara farmakologi.
6.1. Pengobatan non farmakologi.
            Pengobatan non farmakologi adalahterapi hipertensi yang dilakukan dengan mengubah pola hidup penderita hipertensi. Beberapa pola hidup yang harus diperbaiki adalah menurunkan berat badan jiak kegemukan, mengurangi minum alkohol, berolahraga seperti jogging di pagi hari, mengurangi asupan garam, mempertahankan asupan kalium, kalsium dan magnesium, menghentikan merokok, mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol. Seperti halnya pada orang yang lebih muda, intervalensi non farmakologi ini harus dimulai sebelum menggunakan obat – obatan (Kuswardhani 2014).
Tabel II. Modifikasi pola hidup dalam penatalaksanaan hipertensi menurut JNC VII (Chobanian, et al, 2003)
Modifikasi
Rekomendasi
Perkiraan penurunan tekanan darah (mmHg)
Penurunan berat badan
Menjaga berat badan normal (Body Mass Index 18,5 – 24,9 Kg/m2 )
5 – 20 per 10 Kg penurunan berat badan
Pola makan
Mengkonsumsi buah – buahan, sayuran, dan makanan rendah kadar lemak
8 – 14
Kurangi asupan nartrium
Kurangi asupan natrium ≤ 2,4 gram perhari
2 – 8
Aktivitas fisik
Olahraga teratur seperti aerobik ringan minimal 30 memit per hari
4 – 9
Kurangi alkohol
Membatasi konsumsi alkohol, pada pria tidak lebih dari 30 ml etanol perhari dan pada wanita tidak lebih dari 15 etanol ml per hari
2 – 4

            6.2.    Pengobatan farmakologi. Pengobatan farmakologi adalah terapi hipertensi yang dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit yang akan mempengaruhi metabolisme dan distribusi obat, karena harus di pertimbangkan dalam memberikan obat antihipertensi. Hendaknya pemberian obat dimulai dengan dosis kecil dan kemudian ditingkatkan secara perlahan (Nafrialdi 2014).
Tabel III, Panduan pemberian obat antihipertensi pada pasien dengan indikasi penyulit menurut JNC VII (Chobanian, et al, 2003).



Indikasi penyulit
Antihipertensi yang direkomendasikan
Diuretika
ACE Inhibitor
Beta - Bloker
Antagonis reseptor angiotensin II
Antagonis Ca
Antagonis aldosteron
Gagal jantung
Infark miokard
Penyakit koroner
Diabetes militus
Ginjal kronik
Stroke

Algoritme dari penatalaksanaan hipertensi berdasarkan JNC VII :
Modifikasi gaya hidup

B.     Drug Related Problems (DRPs)
1.      Definisi
Drug Relate Problems (DRPs) adalah kejadian yang tidak diharapkan, berupa pengalaman pasien yang diduga atau melibatkan terapi obat dan pada kenyataannya atau potensial menggaggu keberhasilan penyembuhan yang diharapkan (Cipolle, et al 2004).
Dalam ranah farmasi klinik – komunitas, apoteker hakikatnya memiliki tugas primer yaitu mengidentifikasi dan menangani DRPs ini agar tercapai pengobatan yang rasional dan optimal. Secara ringkas, langkah – langkah untuk mengidentifikasi dan menangani DRPs adalah sebagai berikut (PCNE Foundation) :
1.        Menentukan klasifikasi permasalahan terapi obat yang terjadi
2.        Menentukan penyebab terjadinya DRPs
3.        Menentukan tindakan intervensi yang paling tepat terhadap DRPs
4.        Melakukan assesmen (penilaian) terhadap intervensi yang telah dilakukan untuk evaluasi.
Drug Related Problems (DRPs) ada dua yaitu DRPs potensial dan DRPs aktual. DRP aktual adalah masalah yang terjadi berkaitan dengan terapi obat yang sedang diberikan pada pasien, sedangkan DRP potensial adalah masalah yang diperkirakan akan terjadi berkaitan dengan terapi obat yang sedang digunakan pasien (Cipolle et al 2004).
2.   Jenis – Jenis DRP
            Drps dibagi dalam menjadi kategori yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu sebagai berikut :
a.         Obat yang tidak dibutuhkan dapat disebabkan oleh tidak adanya indikasi medis yang sesuia dengan obat yang diberikan, menggunakan terapi polifarmasi yang seharusnya bisa menggunakan terapi tunggal, kondisi yang lebih cocok mendapat terapi non farmakologi, terapi efek samping yang dapat diganti dengan obat lain, penyalahgunan obat.
b.        Membutuhkan terapi obat tambahan dapat disebabkan oleh munculnya kondisi baru sealin penyakit utama yang membutuhkan terapi, diperlukan terapi obat yang bersifat preventif untuk mencegah risiko perkembangan keparahan kondisi, kondisi medis yang membutuhkan kombinasi obat untuk  memperoleh efek sinergis maupun efek tambahan.
c.         Obat kurang efektif disebebkan oleh kondisi medis sukar disembuhkan dengan obat tersebut, bentuk sediaan obat tidak sesuai, kondisi medis yang tidak dapat disembuhkan dengan obat yang diberikan, dan produk obat yang diberikan bukan yang paling efektif untuk mengatasi kondisi penyakit.
d.        Dosis kurang umunya disebabkan karena dosis terlalu rendah untuk dapat menimbulkan respon yang diharapkan, interval pemberian kurang untuk menimbulkan respon yang diinginkan, durasi terapi obat terlalu pendek untuk dapat menghasilkan respon, serta interaksi obat yang dapat mengurangi jumlah obat yang tersedia dalam bentuk aktif.
e.         Efek samping obat dapat disebabkan karena obat menimbulkan efek yang tidak diinginkan tetepi tidak ada hubungannya dengan dosis, interaksi obat yang menyebabkan reaksi yang tidak diharapkan tetapi tidak ada hubungannya dengan dosis lain, ada obat lain yang lebih aman ditinjau dari faktor risikonya, resigmen dosis yang telah diberikan atau diubah terlalu cepat, obat yang diberikan menyebabkan alergi, dan obat yang diberikan dikontraindikasikan karena faktor risikonya.
f.         Dosis berlebih disebabkan oleh dosis obat yang diberikan telalalu tinggi, dosis obat dinaikkan terlalu cepat, frekuensi pemberian obat terlalu pendek, durasi terapi pengobatan terlalu panjang, serta interaksi obat yang menyebabkan terjadinya reaksi toksisitas.
g.        Ketidakpatuhan pasien umumnya disebabkan karena pasien tidak memahami aturan pemakaian, pasien lebih suka tidak menggunakan obat, pasien lupa untuk menggunakan obat, obat terllau mahal bagi pasien, pasien tidak dapat menelan obat atau menggunakan obat sendiri secara tepat, dan obat tidak tersedia bagi pasien (Cipolle et al 2004).
h.        Interaksi obat adalah sebagai modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan; atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas suatu obat atau lebih berubah. Mekanisme interaksi obat dapat dibagi menjadi interaksi yang melibatkan aspek farmakokinetik obat dan interaksi yang mempengaruhi respon farmakodinamik obat (Fradgley et al 2003).








Tabel III. Jenis – jenis drug related problems dan kemungkinan sebab yang terjadi
DRPs
Kemungkinan penyebab pada DRPs
Indikasi perlu obat
a.       Pasien dengan kondidi kesehatan terbaru membutuhkan terapi obat terbaru
b.      Pasien kronik membutuhkan terapi obat lanjutan
c.       Pasien dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan kombinasi farmakoterapi untuk mencapai efek sinergis atau potensiasi
d.      Pasien dengan risiko perkembangan dalam kondisi kesehatan baru dapat dicegah, dengan penguaan terapi prophylactic drug/premedication
Obat tanpa indikasi
a.       Pasien mendapat obat yang tidak tepat indikasi
b.      Pasien mendapat obat atau hasil pengobatan yang  toksik
c.       Pasien dengan masalah gabungan penyalahgunaan obat,pengguna alkohol, atau merokok
d.      Pasien dengan kondisi pengobatan yang lebih baik diobati dengan non drug therapy
e.       Pasien dengan multiple drug terapi hanya single drug therapy yang dapat digunakan
f.       Pasien dengan terapi obat untuk penyembuhan dapat menghindari reaksi yang merugikan dengan pengobatan lainnya


Obat salah
a.       Pasien dengan masalah obat yang tidak efektif
b.      Pasien alergi dengan pengobatan
c.       Pasien menerima obat paling tidak efektif untuk indikasi pengobatan
d.      Pasien dengan faktor risiko pada kontraindikasi pengunaan obat
e.       Paseien menerima obat efektif tapi mahal
f.       Pasien menerima obat efektif tapi tidak aman
g.      Pasien yang terkena infeksi resisten  terhadap obat yang digunakan
Dosis terlalu rendah
a.       Dosisi yang digunakan terlalu rendah untuk memnerikan respon kepada pasien
b.      Konsentrasi obat dalam darah pasien dibawah batas terapeutik yang diharapkan
c.       Waktu prophylaxis antibiotik tidak mencukupi
d.      Obat, dosis, rute, atau formulasi tidak mencukupi untuk pasien
e.       Dosis dan interval fleksibilitas tidak mencukupi untuk pasien


Reaksi obat yang merugikan
a.       Pasien dengan pemberian oabt yang terlalu cepat
b.      Pasien memperoleh reaksi alergi dalam pengobatan
c.       Pasien mendapatkan risiko yang berbahaya jiika obat digunakan
d.      Ketersediaan obat dapat menyebabkan interaksi  dengan obat lain atau makanan pasien
e.       Efek dari obat dapat diubah dengan enzyme inhibitor/induktor dari obat lain
f.       Efek dari obat dapat diubah oleh substansi makanan pasien
g.      Efek dari obat diubah dengan pemindahan obat dari binding site oleh obat lain
h.      Hasil tes laboratorium pasien dapat berubah karena obat lain
Dosis terlalu tinggi
a.       Dosis terlalu tinggi untuk pasien
b.      Pasien dengan konsentrasi obat dalam darah diatas batas terapeutik obat yang diharapkan
c.       Pasien dengan dosis obat meningkat terlalu cepat
d.      Pasien dengan akumulasi obat dari pemberian obat kronik
e.       Obat, dosisi, rute, perubahan formulasi yang tidak tepat untuk pasien
f.       Dosis dan frekuensi tidak tepat untuk pasien


Kepatuhan
a.       Pasien tidak menerima aturan pemakaian obat yang tepat (penulisan, pengobatan, pemberian, pemakaian)
b.      Pasien tidak patuh dengan aturan yang diberikan untuk pengobatan
c.       Pasien tidak mengambil obat yang diresepkan karena harganya mahal
d.      Pasien tidak mengambil beberapa obat – obat yang diresepkan karena kurang mengerti
e.       Pasien tidak mengambil beberapa obat yang diresepkan karena sudah merasa sehat
Interaksi obat
a.       Interaksi pada absorbsi ketika obat diberikan secara oral, maka akan terjadi penyerapan melalui membran mukosa dari saluranpencernaan, dan sebagian besar interaksi terjadi pada penyerapan diusus.
b.      Interaksi pada distribusi obat pada interaksi ini dapat terjadi melalui beberapa hal, yaitu : interaksi ikatan protein dan induksi atau inhisis transpor protein obat.
c.       Interaksi pada nmetabolisme obat reaksi – reaksi yang dapat terjadi pada saat tahap metabolisme yaitu: yang pertama perubahan pada first pass metabolism salah satu pada perubahan aliran darah ke hati, dan inhibisi atau induksi first pass metabolism, kedua induksi enzim, ketiga inhibisi enzim, yang keempat faktor genetik dan yang terakhir adanya interaksi isoenzim CYP450.
d.      Interaksi pada ekskresi obat sebagian besar oabat diekskresikan melalui empedu atau urin, pengecualian untuk obat anestesi inhalasi. Interaksi dapat dilihat dari perubahan pH, perubahan aliran darah diginjal, ekskresi empedu dan ekskresi tubulus ginjal.
(KEMENKES RI 2014)




BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dilakukan dengan pengambilan data retrospektif  pada pasien yang menjalani pengobatan hipertensi kemudian dihitung prevalensi DRPs selama tahun 2016.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di indtalasi rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa. Data medik yang diambil merupakan data pasien yang dirawat mulai dari 1 Januari – 31 Desember 2016.

C.    Populasi dan Sampel
1.        Populasi
Populasi adalah sekumpulan orang atau subyek yang memiliki kesamaan dalam satu hal atau beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani pengobatan hipertensi di instalasi rawat inap RSUD Ambarawa mulai tanggal 1 januari 2016 – 31 Desember 2016.
2.        Sampel
Sampel adalah bagian atau sejumlah cuplikan tertentu yang diambil dari suatu populasi dan teliti secara riset. Sampel penelitian ini adalah pasien yang menjalani pengobatan hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta di instalasi rawat inap RSUD Ambarawa mulai tanggal 1 januari 2016 – 31 Desember 2016 yang memenuhi kriteria inklusi.

D.    Teknik Sampling dan Jenis Data
1.        Teknik Sampling
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposiv sampling, yaitu dengan cara mengambil data setiap pasien yang memenuhi kriteria


Penelitian secara keseluruhan berurutan di masukkan ke dakam penelitian sampai kurun waktu tertentu.
2.        Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari kartu rekam medik pasien yang dirawat dari bulan Januari – Desember 2016 di RSUD Ambarawa meliputi resep dan data kelengkapan pasien (seperti umur, jenis kelamin, diagnosa, hasil pemeriksaan laboratorium).

E.     Kriteria Sampel
1.        Kriteria inklusi
Pasien yang terdiagnosa utama hipertensi dengan atau tanpa komplikasi di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa dalam rentang waktu 1 Januari –  31 Desember 2016 dengan riwayat pengobatan pasien yang lengkap.
2.        Kriteria eksklusi
Pasien yang menjalani pengobatan hipertensi dengan atau tanpa penyakit lainnya di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa dalam rentang waktu 1 Januari – 31 Desember 2016 dengan riwayat pengobatan pasien yang tidak lengkap, rekam medik hilang / rusak.

F.     Variabel Penelitian
1.        Variabel bebas (Independent variable)
Variabel bebas berupa penggunaan obat pada pasien hipertensi di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa dakam waktu jangka tahun selama tahun 2016.
2.        Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat yaitu pasien yang terdiagnosa utama hipertensi dengan atau tanpa komplikasi yang menjalani pengobatan di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa.
3.        Variabel tergantung
Variabel tergantung yaitu jenis DRPs yang terjadi pada pengobatan pasien di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa.

G.    Definisi Oprasional Variabel
1.        Tempat Penelitian. Tempat penelitian adalah di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa
2.        Hipertensi. Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang lebih dari 140/90 mmHg yang diderita pasien rawat inap RSUD Ambarawa.
3.        Outcome pasien dalam penelitian ini adalah keadaan pasien saat pulang (discharge) dari rumah sakit. Terbagi dalam 3 kondisi yaitu : tekanan darah sudah turun, tekanan darah belum normal tapi dipaksa pulang (atas permintaan sendiri), meninggal. Tekaan darah sudah turun disini berarti ada penurunan tekanan darah (sesuai patokan RSUD Ambarawa) dibanding saat masuk rumah sakit, bukan berarti pulih seperti sedia kala. Penilaian kodisi pasien oleh dokter yang merawat.
4.        Obat adalah obat – obatan yang diresepkan oleh dokter dan diberikan kepada pasien hipertensi selama perawatan di RSUD Ambarawa.
5.        Drug Related Problems (DRPs). Drug Related Problems (DRPs) adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dialami oleh pasien hipertensi  yang melibatkan terapi obat dan cenderung mengganggu kesembuhan yang pasien inginkan di Instalasi rawat inap RSUD Ambarawa.
H.    Alur Penelitian
Alur dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, dimana tahap –tahap tersebut dijelaskan pada gambar 2 dbawah ini :
Pengajuan proposal kepada dosen pembimbing skripsi  Universitas setia Budi

1.      Peninjauan ke RSUD Ambarawa
2.      Perijinan Penelitian ke KESBANGPOL (Kesatuan Bangsa dan Politik) Kabupaten Semarang.
3.      Perijinan Penelitian ke Diklat RSUD Ambarawa
 
 








I.       Pengolahan data
1.      Data karakteristik umum pasien mencakup usia, jenis kelamin, jenis penyakit penyerta dan lama rawat inap diolah menjadi bentuk tabel yang menyajikan jumlah dan persentase.
2.      Data pemakaian obat hipertensi dan obat lainnya sesuai dengan jenis penyakit penyerta dan komplikasi yang terjadi selama pasien rawat inap sampai pulang diolah menjadi bentuk tabel yang menyajikan jumlah dan persentase.
3.      Data kejadian DRPs yang terjadi diolah menjadi bentuk tabel yang menyajikan jumlah dan persentase.
 






















 


No comments: