PETUNJUK PRAKTIKUM FARMAKOLOGI III STIFAR “YAYASAN PHARMASI SEMARANG”

 

PETUNJUK PRAKTIKUM FARMAKOLOGI III

 


Disusun Oleh:

A.A.Hesti W.S.,M.Si.Med., Apt

Fx. Sulistyanto, M.Si., Apt

Novi Elisa, M.Farm., Apt

 

 

 

PROGRAM STUDI DIII FARMASI

STIFAR “YAYASAN PHARMASI SEMARANG

2019/2020

 


INFORMASI DASAR UNTUK LABORATORIUM

FARMAKOLOGI

 

1.1  Tujuan Umum Laboratorium Farmakologi

Setelah menyelesaikan praktikum di Laboratorium Farmakologi mahasiswa diharapkan:

1.        Terampil bekerja dengan beberapa hewan percobaan, yaitu: mencit; tikus; marmot; dan kelinci.

2.        Menghayati secara lebih baik berbagai prinsip farmakologi yang diperoleh secara teoritis.

3.        Menghargai hewan percobaan karena peranannya dalam mengungkapkan fenomena-fenomena kehidupan.

4.        Menyadari pengaruh faktor-faktor lingkungan dan hasil eksperimen farmakologi dan menginsyafi sampai batas-batas tertentu analoginya dengan pengaruh faktor-faktor sama pada manusia.

5.        Mampu menerapkan, mengadaptasi dan memodifikasi metode-metode farmakologi untuk penilaian efek obat.

6.        Dapat memberikan penilaian terhadap hasil-hasil eksperimen yang telah diperoleh.

7.        Dapat memberikan tafsiran mengenai implikasi praktis dari hasil-hasil eksperimen.

8.        Menyadari kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi dirinya untuk mengembangkan karir dalam bidang farmakologi dan farmasi.

 

1.2  Hewan Percobaan yang Digunakan dalam Laboratorium Farmakologi

Hewan percobaan tak ternilai jasanya dalam merintis jalan untuk memperbaiki kesehatan manusia. Sampai saat ini, mereka merupakan kunci untuk kemajuan yang dicatat dalam dunia kesehatan.

            Dalam praktikum farmakologi ini, percobaan dilakukan terhadap hewan hidup sehingga harus digarap dengan penuh kemanusiaan. Perlakuan yang tidak wajar terhadap hewan percobaan dapat menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dalam hasil pengamatan.

 

 

1.2.1        Mencit

      Karakteristika Utama Mencit

           Dalam laboratorium, mencit mudah ditangani. Ia bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul sesamanya, mempunyai kecenderungan untuk bersembunyi dan lebih aktif pada malam hari daripada siang hari. Kehadiran manusia akan menghambat aktivitas mencit. Suhu tubuh normal 37,4oC. Laju respirasi normal 163 tiap menit.

Cara Memperlakukan Mencit

1.      Mencit diangkat dengan memegang pada ujung ekornya dengan tangan kanan dan dibiarkan menjangkau kawat kandang dengan kaki depannya.

2.      Dengan tangan kiri, kulit tengkuknya dijepit di antara telunjuk dan ibu jari.

3.      Kemudian ekornya dipindahkan dari tangan kanan ke antara jari manis dan jari kelingking tangan kiri, hingga mencit cukup erat dipegang.

 

 

Pemberian obat kini dapat dimulai.

Cara-cara Pemberian Obat

a.      Oral     : Diberikan dengan alat suntik dilengkapi dengan jarum oral. Kannula ini dimasukkan ke dalam mulut, kemudian perlahan-lahan diluncurkan melalui tepi langit-langit ke belakang sampai esophagus.

(Gambar : Pemberian Obat Secara Oral)

b.      Subkutan : Diberikan di bawah kulit pada daerah tengkuk.

(Gambar : Pemberian Obat Secara Subkutan)

c.      Intravena : Penyuntikan dilakukan pada vena ekor menggunakan jarum no.24. Mencit dimasukkan ke dalam pemegang (dari kawat/bahan lain) dengan ekornya menjulur keluar. Ekor dimasukkan ke dalam air hangat untuk mendilatasi vena guna memudahkan penyuntikan

.

(Gambar : Pemberian obat secara intravena)

d.     Intramuskular : Menggunakan jarum no.24, disuntikkan ke dalam otot paha posterior.

(Gambar : Pemberian obat secara intramuskular)

e.      Intraperitoneal : Untuk ini hewan dipegang pada punggungnya sehingga kulit abdomennya menjadi tegang. (Gambar 1.3). Pada saat penyuntikan, posisi kepala mencit lebih rendah daripada posisi abdomennya. Jarum disuntikkan dengan membentuk sudut 10o dengan abdomen, agak menepi dari garis tengah untuk menghindari terkenanya kandung kencing. Jangan pula terlalu tinggi agar tidak mengenai hati.

Volume penyuntikan untuk mencit yang umum adalah : 1 ml/100 gram bobot badan. Kepekaan larutan obat yang disuntikkan disesuaikan dengan volume yang dapat disuntikkan tersebut.

 

Anestesi

Senyawa-senyawa yang dapat digunakan adalah:

a.      Eter dan karbon dioksida : keduanya digunakan untuk anestesi singkat caranya adalah dengan meletakkan obat pada dasar suatu desikator, hewan kemudian dimasukkan dan wadah ditutup. Apabila hewan sudah kehilangan kesadarannya ia dikeluarkan dan dapat mulai dibedah. Penambahan kemudian dengan eter dapat dilakukan dengan kapas sebagai masker.

b.      Halotan, digunakan untuk anestesi yang lebih lama. Sebenarnya eter dapat juga digunakan untuk tujuan ini, namun karena efek-efek lain yang ditimbulkannya, obat ini tidak menjadi pilihan utama.

c.      Pentobarbital natrium dan heksobarbital natrium. Dosis pentobarbital natrium adalah 45 mg-60 mg/kg untuk cara pemberian intraperitoneal, dan 35 mg/kg untuk cara pemberian intravena. Sedangkan dosis heksobarbital natrium adalah 75 mg/kg untuk pemberian intraperitoneal dan 47 mg/kg untuk pemberian intravena.

Cara Mengorbankan Hewan

           Pengorbanan hewan sering diperlukan apabila terjadi rasa sakit yang hebat atau lama akibat suatu eksperimen; ataupun rasa sakit yang merupakan bagian dari eksperimen. Apabila hewan mengalami kecelakaan, menderita penyakit atau jumlahnya terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan, juga dilakukan etanasi terhadap hewan. Cara etanasi (kematian tanpa rasa sakit) ini dipilih sedemikian, sehingga hewan mengalami penderitaan seminimal mungkin. Dalam memilih cara mengorbankan hewan perlu juga ditinjau tujuan hewan dikorbankan. Pada dasarnya cara fisik merupakan cara yang paling tepat dilaksanakan, mudah, dan paling berperikemanusiaan.

a.      Cara terbaik adalah dengan menggunakan karbon dioksida dalam wadah khusus

b.      Pentobarbital natrium dengan dosis 130-180 mg/kg

c.      Dengan cara fisik dapat dilakukan dengan cara dislokasi leher hewan dipegang pada ekornya, kemudian ditempatkan pada permukaan yang biasa dijangkaunya dengan demikian ia akan meregangkan badannya, pada tengkuknya kemudian ditempatkan suatu penahanan, misalnya sebatang pensil yang dipegang dengan satu tangan. Tangan lainnya kemudian menarik ekornya dengan keras sehingga lehernya akan terdislokasi, dan mencit akan terbunuh.

 

1.2.2     Tikus

Karakteristika Utama Tikus

Relatif resisten terhadap infeksi, dan sangat cerdas. Tikus putih pada umumnya tenang dan mudah ditangani. Ia tidak begitu bersifat fotofobik seperti halnya mencit dan kecenderungannya untuk berkumpul sesamanya juga tidak begitu besar. Aktivitas tidak demikian terganggu dengan adanya manusia di sekitarnya. Suhu tubuh normal: 37,5oC. Laju respirasi normal 210 tiap menit. Bila diperlukan kasar (atau apabila ia mengalami defisiensi nutrisi) tikus menjadi galak dan sering menyerang si pemegang.

Cara Memperlakukan Tikus

Tikus dapat diperlakukan sama seperti mencit, hanya harus diperhatikan bahwa sebaiknya bagian ekor yang dipegang adalah bagian pangkal ekor. Tikus dapat diangkat dengan memgang perutnya ataupun dengan cara sebagai berikut:

1.      Tikus diangkat dari kandangnya dengan memegang tubuhnya atau ekornya dari bejana, kemudian diletakkan di atas permukaan kasar. Tangan kiri diluncurkan dari belakang tubuhnya menuju kepala dan ibu jari diselipkan ke depan untuk menjepit kaki kanan depan tikus antara jari ini dengan telunjuk.

2.      Untuk melakukan pemberian obat secara ip, im, tikus dipegang pada bagian belakangnya ,hal ini hendaklah dilakukan dengan mulus dan tanpa ragu-ragu. Tikus tidak mengelak bila dipegang dari atas, tapi bila dipojokkan ke sudut, ia akan menjadi panic dan mengigit.

 

Cara-cara Pemberian Zat

Oral, subkutan, intravena, intramuscular, maupun intraperitoneal dapat diberikan dengan cara yang sama seperti pada mencit. Penyuntikan subkutan dapat pula dilakukan di bawah kulit abdomen. Volume penyuntikan paling baik bagi tikus adalah 0,2-0,3 mL/100 gram bobot badan.

Anestesi

Senyawa-senyawa anestesika dan cara-cara anestetika pada tikus umumnya adalah sama seperti pada mencit.

Cara Mengorbankan Tikus

Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan karbon dioksida, eter, dan pentobarbital dengan dosis yang sesuai. Cara fisik dapat dilakukan sebagai berikut:

Letakkan tikus di atas sehelai kain, kemudian bungkuslah badan tikus, termasuk kedua kaki depannya. Bunuhlah dengan salah satu cara berikut:

a.      Pukullah bagian belakang telinganya dengan tongkat.

b.      Peganglah tikus dengan perutnya menghadap ke atas, kemudian pukulkan bagaian belakang kepalanya kepada permukaan yang keras seperti meja atau permukaan logam, dengan sangat keras.

 

1.2.3     Kelinci

           Kelinci jarang sekali bersuara, hanya dalam keadaan nyeri luar biasa ia bersuara. Kelinci pada umumnya cenderung untuk berontak apabila merasa keadaannya terganggu. Suhu rectal pada kelinci sehat adalah antara 38,5o-40oC, pada umumnya 13,5oC. Suhu rektal ini berubah apabila hewan tersebut tereksitasi, ataupun karena gangguan lingkungan. Laju respirasi kelinci dewasa normal adalah 38-65 per menit, pada umumnya 50 (pada kelinci muda laju ini dipercepat, dan pada kelinci bayi bias mencapai 100 per menit).

Cara Memperlakukan Kelinci

Kelinci harus diperlakukan dengan halus namun sigap, karena ia cenderung untuk berontak. Menangkap atau membalikkan kelinci jangan dengan mengangkat pada telinganya. Untuk menangkapnya, kulit pada leher kelinci dipegang dengan tangan kiri, pantatnya diangkat dengan tangan kanan . Kemudian didekap ke tubuh.

(Gambar : Perlakuan kelinci)

Cara-cara Pemberian Obat

a.      Oral                 : Pada umumnya pemberian obat dengan cara ini dihindari, tapi bila dipakai juga maka digunakan alat penahan rahang dan pipa lambung.

b.      Subkutan         : Bagian yaqng baik untuk cara pemberian ini adalah kulit di sisi sebelah pinggang atau bagian tengkuk.

Caranya           : Angkat kulit dan tusukan jarum (No.15) dengan arah interior.

c.      Intravena         : yang dipilih adalah vena marginalis dan penyuntikan dilakukan pada daerah dekat ujung telinga. Sebelumnya telinga dibasahi dulu dengan air hangat atau alcohol .Pencukuran terutama diperlukan pada hewan berwarna gelap.

d.     Intramuskular  : Dilakukan pada otot kaki belakang.

e.      Intraperitoneal : Posisi kelinci diatur sedemikian sehingga letak kepala lebih rendah daripada perut.

Penyuntikan dilakukan pada garis tengah di muka kandung kencing.

Anestesi

Senyawa anestetika yang paling banyak digunakan adalah pentobarbital natrium yang disuntikkan secara perlahan-lahan. Dosis untuk anestesi umum adalah 22 mg/kg bobot badan, dan untuk anestesi singkat dapat diambil setengah dari dosis di atas, ditambah dengan eter untuk menyempurnakan pembiusan. Dosis untuk anestesi konduksi adalah 15-22 mg/kg bobot badan (larutan dalam air 60 mg/mL).

 

Mengorbankan Kelinci

Ada beberapa cara yang dapat digunakan:

a.       Dengan menggunakan karbon dioksida.

b.      Dengan injeksi pentobarbital natrium 300 mg secara intravena.

c.       Dengan cara dislokasi leher:

-       Pegang kaki belakang kelinci dengan tangan kiri sehingga badan dan kepalanya tergantung ke bawah, menghadap ke kiri. Dengan jari-jari tangan kanan dikeraskan, pukulkanlah sisi telapak tangan kanan dengan keras pada tengkuk kelinci Selain tangan dapat juga digunakan alat, seperti tongkat.

-       Tempatkan kelinci di sebuah meja. Dengan tangan kiri angkat badannya pada telinga sedemikian sehingga kaki depannya tepat tergantung di atas  meja. Pada kondisi ini pukulkan tongkat dengan keras di belakang telinganya.

 

1.2.4     Marmot

Karakteristika Utama Marmot

Marmot amat jinak, tidak akan menimbulkan kesukaran pada waktu dipegang, dan jarang menggigit. Marmot yang sehat selalu bersikap awas, kulitnya halus dan berkilat, tidak dikotori oleh feces maupun urin. Bila dipegang, bulunya tebal, kuat, tapi tidak kasar, marmot berdaging tebal. Tidak ada cairan yang keluar dari hidung ataupun telinga, juga tidak meneteskan air liur ataupun diare. Pernafasannya teratur dan tidak tersembunyi. Sikap dan cara berjalannya normal. Dalam satu spesies, variasi bobot badan dan ukuran badan antara tiap marmot yang berumur sama, tidak besar. Laju denyut jantung marmot normal adalah 150-160 per menit, laju respirasi 110-150 per menit, dan suhu rectal antara 29o dan 40oC.

 

Cara Memperlakukan Marmot

Marmot dapat diangkat dengan cara memgang badan bagian atas dengan tangan yang satu dan memegang badan bagian belakang dengan tangan yang lain .Obat dapat diberikan dengan mendekap marmot ke tubuh sendiri dengan satu tangan.

 

       Cara-cara Pemberian Obat

a.      Oral : Ada tiga cara yang dapat dilakukan, yakni:

-       Dengan pipa lambung, seperti pada mencit. Sebelumnya marmot diberi anestetika lemah terlebih dahulu.

-       Dengan pipet, ini berlaku untuk cairan sampai dengan volume 5 mL.

-       Dengan penambahan kepada makanan; selain untuk bahan padat dapat juga untuk pemberian cairan.

b.      Intradermal : Bulu marmot pada daerah yang akan disuntikkan dicukur terlebih dahulu, kemudian ditegakkan, jarum suntik ditusukkan kira-kira 2 cm ke dalam kulit. Jumlah cairan yang dapat diberikan adalah sampai dengan 0,5 mL.

c.      Subkutan : Angkatlah sebagian kulit dengan mencubitnya, kemudian tusukkanlah jarum suntik ke bawah kulit, paralel dengan otot di bawahnya. Pemilihan lokasi penyuntkan tidak dibatasi.

d.     Intraperitoneal : Daerah penyuntikan adalah seluas ± 2,5 cm2. Agak ke kanan dari garis midsagital dan 2,5 cm di atas pubis. Marmot dipegang pada punggungnya sedemikian sehingga perutnya agak menonjol ke muka. Jarum suntik kemudian ditusukkan seperti pada cara subkutan, tetapi sesudah masuk ke dalam kulit, jarum agak ditegakkan sehingga menembus lapisan otot masuk ke dalam daerah peritoneum.

e.      Intramuskular : Daerah penyuntikan terbaik adalah otot paha bagian posteriolateral. Jarum disuntikkan melalui kulit dan diarahkan kepada jaringan otot, jangan terlalu dalam sampai jarum menyentuh tulang paha.

f.       Intravena : Cara ini jarang digunakan, namun ada dua metoda yang mungkin dilaksanakan.

-       Pada vena marginalis, dengan jarum halus dan pendek, cara ini berlaku khusus untuk marmot besar.

-       Pada vena-saphena (vena pada paha), marmot dianestesi terlebih dulu, isolasi vena saphena, baru dilakukan penyuntikan.

Keterangan : Pemberian obat-obatan secara parenteral terutama untuk marmot harus didahului dan diakhiri dengan pemberian antiseptika pada daerah penyuntikan.

 

Anestesi

Dua obat yang biasanya digunakan adalah eter dan pentobarbital natrium. Eter digunaka untuk anestesi singkat, setelah marmot dipuasakan 12 jam. Pentobarbital natrium diberikan dengan dosis 28 mg/kg bobot badan.

 

Mengorbankan marmot

Dapat dilakukan secara kimiawi dengan karbon dioksida tapi cara yang paling umum, cepat dan berperikemanusiaan adalah dengan mematahkan lehernya.

Caranya           : - Dengan pukulan keras pada tengkuk

                          - Dengan memukulkan belakang kepalanya kepada permukaan horizontal yang keras. Bila ada kesukaran dalam memperoleh peralatan seperti disebut di atas, maka leher dapat juga didislokasi dengan menggunakan tangan saja.

 

 

1.2.5     Volume administrasi obat

Volume cairan yang diberikan pada hewan percobaan harus diperhatikan tidak melebihi jumlah tertentu.

Dalam tabel 1.1 diberikan beberapa contoh dari batas volume yang dapat diberikan pada hewan percobaan.

 

Tabel 1.1 Volume Larutan Yang Biasa Diberikan Pada Binatang

No.

Binatang

Volume Maksimum (ml)

Cara Pemberian

i.v.

i.m.

i.p.

s.c.

p.o

1.

Mencit (20-30 g)

0,5

0,05

1,0

0,5-1,0*

1,0

2.

Tikus (100 g)

1,0

0,1

2,0-5,0

2,0-5,0*

5,0

3.

Hamster (50 g)

-

0,1

1,0-5,0

2,5

2,5

4.

Marmot (250 g)

-

0,25

2,0-5,0

5,0

10,0

5.

Merpati (300 g)

2,0

0,5

2,0

2,0

10,0

6.

Kelinci (2,5 kg)

5,0-10,0

0,5

10,0-20,0

5,0-10,0

20,0

7.

Kucing (3 kg)

5,0-10,0

1,0

10,0-20,0

5,0-10,0

50,0

8.

Anjing (5 kg)

10,0-20,0

5,0

20,0-50,0

5,0-10,0

100,0

 

* Didistribusikan Ke Daerah Yang Lebih Luas

Diambil dari : M. Boucard, et al, Pharmacodinamic, Guide de Travaux Practiquea, 1981-1982

Senyawa yang tidak larut dibuat dalam bentuk suspensi dalam gom dan diberikan dengan rute per oral.

 

1.2.6                 Anestesi hewan percobaan

Selain anestesi yang disebutkan pada uraian di atas, tabel 1.2 memuat beberapa data mengenai anestesi umum yang dapat diberikan pada hewan percobaan.

 

Tabel 1.2 Data anestesi umum  pada hewan percobaan

Hewan percobaan

Anestetika

Kepekaan larutan & Pelarut

Dosis

Rute Pemberian

Mencit & Tikus

Eter

 

 

Inhalasi

Kloralose

2% dalam NaCl fisiologis

300 mg/kg

i.p

Uretan

10%-25% dalam NaCl fisiologis

1-1.25 g/kg

i.p

Nebutal

65 mg/ml

40-60 mg/kg (kerja singkat)

80-100 mg/kg (kerja lama)

i.p

atau

i.v

Pentobarbital Na

4.5%-5% dalam NaCl fisiologis

45-60 mg/kg

35 mg/kg

i.p

i.v

Heksobarbital Na

7.5% dalam NaCl fisiologis

4.7% dalam NaCl fisiologis

75 mg/kg

 

47 mg/kg

i.p

 

i.v

Kelinci

Eter

 

 

Inhalasi

Uretan

10% dalam NaCl fisiologis

19/kg

i.p/i.v

Kloralose/

(kloralose+Nembutal)

1 % dalam NaCl fisiologis

1 % dalam NaCl fisiologis

65 mg/ml

100 mg/kg

 

100 mg/kg

 

10 mg/kg

i.p

 

i.v

Pentobarbital Na

5% dalam NaCl fisiologis

22 mg/kg (kerja lama)

11 mg/kg (kerja singkat)

i.v

 

i.v

Pentotal

5% dalam aq.dest

10-20 mg/kg (menurut jangka waktu kerja)

i.v

Morfin

5% dalam aq.dest

100 mg/kg

s.c

Marmot

Eter

 

 

inhalasi

Kloroform

 

 

inhalasi

Uretan

10-25% dalam NaCl fisiologis hangat

19/kg

i.p

Kloralose

2% dalam NaCl fisiologis

150/kg

i.p

Pentobarbital Natrium (seperti pada tikus)

 

28 mg/kg

i.p

Kera

Eter

 

 

Inhalasi

Kloralose

10% dalam NaCl fisiologis

100-200 mg/kg

i.v

Pentotal

1% dalam aq.dest

20-25 mg/kg

i.v

Anjing

Kloralose

 

100-200 mg/kg

i.v

 

1.2.7        Aplikasi Dosis Secara Kuantitatif Pada Spesies Lain

                 Untuk dapat memperoleh efek farmakologis yang sama dari suatu obat pada tiap spesies hewan percobaan, diperlukan data mengenai aplikasi dosis secara kuantitatif. Keterangan demikian akan diperlukan bila obata akan dipakai pada manusia, dan pendekatan terbaik adalah dengan menggunakan luas perbandingan tubuh. Beberapa spesies hewan percobaan yang sering digunakan, dipolakan perbandingan luas permukaannya dalam tabel 1.4 secara matriks. Sebagai tambahan ditentukan pula perbandingan terhadap luas permukaan tubuh manusia.

1.2.8        Pertanyaan

1.        Sebutkan keuntungan serta kerugian pemakaian masing-masing hewan tersebut!

2.        Mencit adalah hewan yang paling banyak digunakan dalam eksperimen laboratorium. Mengapa?

3.        Faktor-faktor apa yang perlu diperhatikan dalam memilih spesies hewan percobaan untuk suatu penelitian laboratorium yang bersifat skrining ataupun pengujian suatu efek khusus?

 

1.3              Faktor-Faktor Lingkungan Luar yang Dapat Mempengaruhi Hasil-Hasil Eksperimen

Dalam laboratorium farmakologi, sebagian besar eksperimen dilakukan pada hewan percobaan dan pada jaringan atau peragaan hewan percobaan. Sebagai makhluk hidup ataupun struktur hidup persyaratan-persyaratan dan kebutuhan-kebutuhan tertentu harus dipenuhi, agar respon terhadap manipulasi farmakologi yang dialaminya dapat secara pasti dikatakan merupakan respon untuk perlakuan farmakologi yang dialami.

            Selain faktor-faktor internal pada hewan seperti: usia, kelamin, ras, sifat genetik, status kesehatan dan status nutrisi, bobot tubuh, dan luas permukaan tubuh yang mempengaruhi respon terhadap manipulasi farmakologi yang dialami, maka berbagai faktor seperti : keadaan kandang, suasana asing atau baru, penempatan hewan, pengeluaran hewan sebelum menerima obat, pengalaman hewan sebelum menerima obat, keadaan ruangan tempat hidup  (suhu, kelembaban, ventilasi, cahaya, kebisingan) dapat memodifikasi respon yang diberikan pada hewan percobaan. Faktor-faktor eksternal seperti : suplai oksigen, pemeliharaan lingkungan fisiologis dan isoosmotis dan pemeliharaan strukturil ketika menyiapkan jaringan atau organ untuk eksperimen, turut menjamin bahwa hasil eksperimen dapat dipercaya. Beberapa faktor lingkungan yang telah dikemukaan di atas akan diuraikan lebih lanjut berikut ini.

a.         Keadaan kandang : bahan yang diletakkan pada dasar kandang sebagai tempat tidur dapat menyebabkan perbedaan respon terhadap obat. Lamanya tidur pada mencit-mencit putih jantan berbeda setelah diberikan heksobarbital natrium atau pentobarbital natrium, jika untuk alas tidur digunakan pecahan-pecahan tongkol jagung atau potongan kecil dari kayu sedap merah.

b.        Suasana kandang yang baru atau asing, juga menambah variabilitas terhadap respon obat, terutama pada uji pirogen dan efek furgatif atau dalam pengujian efek obat terhadap keawasan, denytut jantung, ekskresi urin, and aktivitas lokomotorik.

c.         Penempatan hewan dalam kandang: penempatan hewan dalam kandang secara sendiri atau bersama-sama juga dapat merubah respon terhadap obat. Mencit-mencit strain tertentu yang ditempatkan bersama-sama menunjukkan peningkatan toksisitas amfetamin sebesar sepuluh kali daripada ditempatkan sendiri-sendiri. Bila besar kelompok dalam suatu kandang diperkecil, toksisitas amfetamin juga berkurang.

Fenobarbital dengan dosis yang menyebabkan depresi kuat ternyata menyebabkan respon yang berlawanan, yaitu menunjukkan efek stimulant kuat terhadap mencit-mencit yang ditempatkan bersama-sama. Jadi untuk mendapatkan hasi percobaan yang baik maksimum dapat ditempatkan lima ekor hewan bersama-sama.

d.        Pengalaman hewan sebelum menerima obat : Latihan-latihan melompat dalam menghindari stimulus goncangan yang kuat, mengakibatkan bahwa hewan percobaan menjadi lebih resisten dan tahan terhadap pengaruh obat-obatan fenotiazin.

e.         Keadaan ruangan tempat hidup hewan percobaan : suhu kamar sekitar 270 C ternyata  menaikkan toksisitas amfetamin dibandingkan dengan suhu sekitar 15.50C. Panas, mendilatasi pembuluh-pembuluh perifer dan mengintensifkan kerja vasodilator dan diaforetik. Klorpromazina dan obat-obat sejenisnya lebih bersifat depresan pada suhu kamar 130C sampai 180C daripada suhu 250C sampai 300C dan lebih bersifat mengeksitasi dan cepat membunuh pada suhu 330C sampai 380C. di Negara-negara tropis, reaksi-reaksi alcohol yang berlebihan tampak lebih merugikan dan obat-obat narkotika lebih cepat mengeksitasi dan menyebabkan delirium.

Faktor-faktor lain yang dapat ikut memodifikasi respon hewan percobaan terhadap obat yang diberikan ialah cuaca, ketinggian, musim, dan jenis makanan serta saat waktu eksperimen dilakukan.

Meskipun belum semua faktor yang dapat memodifikasi respon hewan percobaan terhadap suatu obat diketahui dan meskipun dapat dipersolakan seberapa jauh keadaan-keadaan yang terlalu artificial harus dipatuhi ketika melakukan eksperimen, namun untuk mempelajari efek obat serta intensitas efek tersebut yang sesungguhnya dapat diterima bahwa faktor-faktor luar yang memodifikasi hasil-hasil eksperimen sewajarnya dihindari.

 

 

 

 

 

Tabel 1.3. Perbandingan luas permukaan tubuh hewan percobaan  untuk konversi dosis

 

20 g mencit

200 g tikus

500 g marmot

1,5 kg kelinci

2,0 kg kucing

4,0 kg kera

12,0 kg anjing

70,0 kg manusia

20 g mencit

1,0

7,0

12,29

27,8

29,7

64,1

124,2

387,9

200 g tikus

0,14

1,0

1,74

3,8

4,2

9,2

17,8

56,0

400 g marmot

0,08

0,57

1,0

2,25

2,4

5,2

10,2

31,5

1,5 kg kelinci

0,04

0,25

0,44

1,0

1,00

2,4

4,5

14,2

2,0 kg kucing

0,03

0,23

0,41

0,92

1,0

2,2

4,1

13,0

4,0 kg kera

0,016

0,11

0,19

0,42

0,45

1,0

1,9

6,1

12,0 kg anjing

0,008

0,06

0,10

0,22

0,24

0,52

1,0

3,1

70,0 kg manusia

0,0026

0,018

0,031

0,07

0,018

0,16

0,32

1,0

Diambil dari D.R. Laurence & A. L. Racharach, Evaluation of Drug Activities: Pharmacomatery, 1964.

 

Cara mempergunakan tabel:

Bila diinginkan dosis absolut pada manusia 70 kg dari data dosis pada anjing 10 mg/kg (untuk anjing dengan bobot 12 kg) maka dihitung terlebih dahulu dosis absolute pada anjing yaitu (10mg/kg x12 kg) = 120 mg.

Dengan mengambil faktor konversi dari table 1.3, diperoleh dosis untuk manusia = (120 mg x 3.1) = 372 mg.

Dengan demikian dapat diramalkan efek farmakologis suatu obat yang timbul pada manusia dengan dosis 372/70 kg BB adalah sama dengan yang timbul pada anjing dengan dosis 120 mg/12 kg BB dari obat yang sama.

Contoh perhitungan dosis :

Obat X memiliki dosis lazim pada manusia yaitu 40 mg. Akan diujikan pada mencit secara per oral dengan berat badan 21,3 g.

a.       Hitung konsentrasi larutan stok !

b.      Hitung berapa mg serbuk obat X yang di timbang jika akan dibuat larutan stok 250 ml.

c.       Hitung Vp pada mencit 20 g !

Jawab :

Jika tidak dinyatakan lain berat badan yang dimaksud adalah 50 kg (BB orang asia). Maka harus dihitung terlebih dahulu dalam BB 70 kg ( sesuai yang tertera pada tabel konversi).

Dosis manusia 70 kg =

Kemudian dosis pada manusia 70 kg dikonversi ke dosis 20 g dengan mengambil faktor konversi pada tabel 1.3 ( faktor konversi manusia ke mencit = 0,0026), sehingga diperoleh dosis untuk mencit = 56 mg x 0,0026 = 0,1456 mg/20g mencit.

Dosis mencit per kgBB =

a.       Konsentrasi larutan stok =

Jika dianggap BB mencit terbesar 1,3 g, maka dosis =

Volume pemberian maksimal pada mencit secra per oral = 1,0 ml (lihat pada tabel 1.1)

Sehingga konsentrasi larutan stok =

b.      Jumlah serbuk yang ditimbang = 0,3102 mg/ml x 250 ml = 77,55 mg

c.       Sebelum menghitung Vp, hitung dulu dosis mencit dengan BB yang dinyatakan.

Jadi, dosis mencit 20 g =

Vp =  =

 

 

PERCOBAAN 5

ANALGESIK

 

A.       Tujuan

Setelah menyelesaikan eksperimen ini mahasiswa:

1.         Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek analgesic suatu obat.

2.         Memahami dasar-dasar perbedaan dalam daya analgesic berbagai analgetika.

3.         Mampu memberikan pandangan yang kritis mengenai kesesuaian khasiat yang dianjurkan untuk sediaan –sediaan farmasi analgetika.

 

B.       Pendahuluan

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri. Analgetika yang diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia dan fisis.

Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung syaraf perifer ataupun di tempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks serebri oleh syaraf sensoris melalui sunsum tulang belakang dan thalamus.

Berdasarkan atas rangsang nyeri yang dipergunakan, maka terdapat berbagai metode penetapan daya analgetika suatu obat. Salah satu diantaranya menggunakan rangsang kimia sebagai penimbul rasa nyeri, seperti yang akan dipraktekkan di sini.

Berdasar proses terjadinya rasa nyeri tersebut, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara:

a.         Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri perifer (analgetika perifer, anestesi lokal).

b.         Merintangi penyaluran rasa nyeri dalam syaraf-syaraf sensoris (anestesi lokal).

c.         Memblokade atau menghambat rasa nyeri di pusat nyeri dalam susunan syaraf pusat (analgetika narkotika, anestesi umum).

Secara umum, analgetika dibagi ke dalam dua golongan, yakni

a.         Analgetika non narkotika atau integumental analgetics (misalnya asetosal, parasetamol). Obat-obat ini dinamakan anlgetika perifer karena tidak mempengaruhi susunan syaraf sentral, tidak menurunkan kesadaran dan tidak mengakibatkan ketagihan.

b.         Analgetika narkotika atau visceral analgetics (misalnya morfin). Analgetika ini memiliki daya penghalang rasa nyeri yang sangat kuat sekali, mengurangi kesadaran (mengantuk) dan memberikan perasaan nyaman (euphorbia). Obat ini dapat juga menyebabkan toleransi, kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensia bila diputuskan pengobatan.

 

C.       Cara Percobaan

a.    Metode: Jentik Ekor

Rangsang nyeri yang digunakan dalam metode ini berupa air panas (500C), dimana ekor tikus dimasukkan ke dalam air panas akan merasakan nyeri panas dan ekor dijentikkan keluar air panas.

b.      Bahan

1.      Larutan CMC Na 0,5%

2.      Bahan obat: Ibuprofen, Na diklofenak, Asam mefenamat, Metilprednisolon.

c.       Hewan uji: tikus putih jantan

d.      Alat

1.      Spuit injeksi (0,1-1ml)

2.      Jarum oral (ujung tumpul)

3.      Bekker glass

4.      Stop watch

5.      Penangas air

6.      Holder tikus

7.      Neraca ohauss

e.       Cara Kerja

1.      Sebelum pemberian obat catat dengan mempergunakan stopwatch waktu yang diperlukan tikus untuk menjentikkan ekornya keluar dari penangas air. Tiap rangkaian pengamatan dilakukan tiga kali, selang dua menit. Pengamatan pertama diabaikan, hasil dari dua pengamatan terakhir diratakan dan dicatat sebagai respon normal masing-masing tikus terhadap stimulus nyeri. Jika perlu, stimulus disesuaikan untuk mencapai respon normal terhadap stimulus nyeri, sekitar tiga sampai lima detik.

2.      Tiap kelompok dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing mendapat 4 ekor hewan uji, 1 ekor hewan uji sebagai kontrol.

3.      Kelompok I (Ibuprofen)  : 3 hewan uji diberikan suspensi Ibuprofen dosis 200 mg/50 kg  BB manusia.

      Kelompok II (Na diklofenak) : 3 hewan uji diberikan suspensi Na diklofenak dosis 50 mg/50 kg  BB manusia.

      Kelompok III (Metilprednisolon) : 3 hewan uji diberikan suspensi Metilprednisolon dosis 8 mg/50 kg  BB manusia.

      Kelompok IV (Asam Mefenamat) : 3 hewan uji diberikan suspensi Asam Mefenamat dosis 500 mg/50 kg  BB manusia.

4.      Diamkan sepuluh menit, kemudian nilai respon masing-masing tikus terhadap stimulus nyeri seperti pada no (1). Jika tikus tidak menjentikkan ekornya keluar air panas dalam waktu 10 detik setelah pemberian stimulus nyeri, maka dapat dianggap bahwa ia tidak menyadari stimulus nyeri tersebut. Jangan biarkan ekornya melampaui waktu ini dalam air panas.

5.      Ulangi penilaian respon tikus selang 20 menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit dan seterusnya sampai efek analgesic hilang.

6.      Tabelkan hasil-hasil pengamatan Saudara dengan sebaik-baiknya.

7.      Gambarkan suatu kurva yang merefleksikan pengaruh obat-obat yang diberikan terhadap respon tikus untuk stimulus nyeri.

 

D.       Pembahasan dan Simpulan

Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini dan kemukakan pula simpulan-simpulan dan komentar Saudara.

 

E.       Hal-hal yang perlu dipelajari

1.         Bagaimana mekanisme analgesic ?

2.         Bagaimana prinsip hantaran nyeri dengan metode jentik elor dan geliat?

 

F.        Daftar Pustaka

Anonim. 2002. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru

Tjay, Tanhoan, Kirana Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia

 

 

 

 

 

PERCOBAAN 8

ANTIINFLAMASI

 

A.       Tujuan

Setelah menyelesaikan eksperimen, mahasiswa diharapkan:

1.         Dapat memahami azas eksperimen dan memperoleh petunjuk-petunjuk yang praktis.

2.         Dapat menunjukkan beberapa kemungkinan dan batasan yang merupakan sifat teknik percobaan.

 

B.       Pendahuluan

Meskipun kejadiannya merupakan gabungan proses yang kompleks inflamasi mempunyai tanda-tanda dan gejala yang bersifat umum yaitu bengkak kemerahan, nyeri dan panas, tidak peduli sebabnya karena bahan kimia atau mekanis.

Obat-obat anti radang dibagi menjadi dua golongan utama, golongan kortikosteroid dan nonsteroid. Argumen yang dewasa ini diterima mengenai mekanisme kerja obat-obat tersebut ialah bahwa aksi obat-obat anti radang berkaitan dengan penghambatan metabolisme asam arakhidonat (Higgs dan Whittle, 1980).

Seperti diketahui asam arakhidonat adalah substrat untuk enzim-enzim siklooksigenase dan lipooksigenase. Siklooksigenase  mensintesa siklik endoperoksida (prostaglandin G-2 dan H-2) yang kemudian akan diubah menjadi prostaglandin stabil, tromboksan, atau prostasiklin. Ketiga produk ini berasal dari leukosit, dan senyawa-senyawa itu dijumpai pada keadaan radang. Di dalam leukosit, asam arakhidonat oleh lipooksigenase akan diubah menjadi asam-asam mono dan di-hidroksi (HETE) yang merupakan prekursor dari leukotrien (senyawa yang dijumpai pada keadaan anafilaksis). Dengan adanya rangsang mekanis atau kimia, produksi enzim lipooksigenase akan dipacu sehingga meningkatkan produksi leukotrien dari asam arakhidonat.

Obat-obat yang dikenal menghambat siklooksigenase secara spesifik (indometasin dan salisilat) mampu mencegah produksi mediator inflamasi: PGE-2 dan prostasiklin. Karena prostaglandin bersifat sinergik dengan mediator inflamasi lainnya (yakni bradikinin dan histamin) maka pencegahan pembentukan prostaglandin akan mengurangi efektivitas bradikinin dan histamin. Ibuprofen dan aspirin mampu berikatan dengan siklooksigenase, dan bersifat kompetitif terhadap arakhidonat.

Secara in vivo kortikosteroid mampu menghambat pengeluaran prostaglandin pada tikus, kelinci, dan marmot. Penghambatan pengeluaran asam arakhidonat dari fosfolipida juga akan mengurangi produk-produk siklooksigenase dan lipooksigenase sehingga mengurangi mediator peradangan. Kedua enzim tersebut dapat dihambat oleh benoksaprofen.

 

 Udem dengan Karagen

Dari sekian banyak teknik percobaan anti inflamasi, yang paling sering dilakukan adalah pembentukan udem dengan karagen, suatu polisakarida sulfat yang berasal dari tanaman chondruserispus. Pembentukan udem oleh karagen tidak menyebabkan kerusakan jaringan meskipun udem dapat bertahan 6 jam dan berangsur-angsur akan berkurang dan setelah 24 jam akan menghilang tanpa meninggalkan bekas.

Prinsip

Suntikan subkutan karagen pada telapak kaki belakang tikus menyebabkan udem yang dapat diinhibisi oleh obat anti inflamasi yang diberikan sebelumnya. Volume udem diukur dengan alat plethysmometer dan dibandingkan terhadap udem yang tidak diberikan obat. Aktivitas obat anti inflamasi dinilai dari presentase proteksi yang diberikan terhadap pembentukan udem.

 

C.    Cara Percobaan

a.      Bahan

1.      Karagenin 1%

2.      Ibuprofen

3.      Na Diklofenak

4.      Deksametason

5.      Metilprednisolon

6.      Binatang percobaan (Tikus jantan 200-300gr/Wistar).

b.   Alat

1.      Pletismograf.

2.      Alat suntik (jarum tupul)

3.      Spuit 1 ml

c.       Cara Kerja

1.      Tikus ditimbang dan kaki kanan belakang diberi tanda sebatas mata kaki.

2.      Tikus tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus.

3.      Masing-masing kelompok diukur volume normal kaki kanan belakang (Vn) dengan mencelupkannya ke dalam cairan raksa sampai batas tanda pada alat plestimograf.

4.      Diberi perlakuan secara peroral dengan menggunakan sonde, yaitu:

      Kelompok I (kontrol)        : diberi CMC Na 0,5%

      Kelompok II                     : diberi Ibuprofen dosis 50,4 mg/kg BB

      Kelompok III                    : diberi Na Diklofenak dosis 6,3 mg/kg BB

      Kelompok IV                    : diberi Deksametason dosis 0,126 mg/kg BB

      Kelompok V                     : diberi Metilprednisolon dosis 0,5 mg/kgBB

5.      Setengah jam setelah perlakuan diberikan , diinjeksikan dengan larutan karagenin 1% sebanyak 0,05 ml secara subplantar pada kaki kanan belakang yang diukur volumenya tadi.

6.      Selanjutnya tiap 1/2 jam, diukur volume kaki kanan belakang dengan cara mencelupkannya ke dalam cairan raksa sampai batas tanda pada alat plestimograf. Pengukuran dilakukan selama 3 jam. Volume kaki dibaca pada pipet ukur 1 ml dengan 1 skala pada pipet ukur sebesar 0,1 ml.

7.      Volume udema pada setiap jam diketahui dari selisih volume telapak kaki pada jam-jam tertentu (Vt0, Vt1, Vt2, Vt3, Vt4, Vt5) dengan volume telapak kaki normal (Vn).

 

D.       Analisa Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah volume udema yaitu selisih antara volume tiap jam dengan volume normal. Dari volume udema dihitung persen kenaikan volume udema (%KVU) dengan rumus

                 %KVU =  x 100%

Dari data persen kenaikan volume udema dibuat kurva hubungan persen kenaikan volume udema dengan waktu. Dihitung Area Under Curve (AUC0-5) setiap subyek uji. Nilai AUC volume udema dihitung dengan metode trapezoid tiap 1 jam dengan rumus:

                 AUCtn – tn-1 =  (tn – tn-1)

Vu tn         = volumeudema pada t ke n

Vu tn-1       = volume udema pada waktu t ke n-1

Data AUC0-5 dianalisa secara statistic dengan analisa varian satu jalan. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan dilakukan uji t dengan taraf kepercayaan 95%.

Dari data AUC dihitung persen daya inflamasinya dengan rumus:

                 % daya antiinflamasi   =  x 100%

Data % daya antiinflamasi juga dianalisa secara statistic dengan analisa varian satu jalan. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan dilakukan uji t dengan taraf kepercayaan 95%.

 

E.       Hal-Hal yang perlu dipelajari

1.         Jelaskan mekanisme terbentuknya radang!

2.         Sebutkan obat-obat anti-inflamasi dan apakah ada diantara obat-obat tersebut yang juga kerjanya menghilangkan rasa nyeri!

3.         Jelaskan mekanisme kerja obat-obat antiinflamasi!

 

F.        Daftar Pustaka

Anonim. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta: Universitas Indonesia

Anonim. 1994. Farmakologi. Jilid II. Jakarta: DEPKES RI

Djamuri, Agus. 1995. Sinopsis Farmakologi. Jakarta: Hipokrates

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERCOBAAN 9

ANTIDIARE

 

A.                                                                      Tujuan

Setelah menyelesaikan eksperimen ini mahasiswa:

1.         Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek antidiare suatu obat.

2.         Mampu memberikan pandangan yang kritis mengenai kesesuaian khasiat yang dianjurkan untuk sediaan –sediaan farmasi antidiare.

 

B.                                                                       Pendahuluan

Diare adalah pengeluaran feses cair atau seperti bubur berulang kali (lebih dari tiga kali sehari). Pada penyakit usus halus atau usus besar bagian atas, akan diekskresikan feses dalam jumlah banyak dan mengandung air dalam jumlah besar, sedangkang penyakit pada bagian distal menyebabkan diare dalam jumlah sedikit.

Berdasarkan tinjauan patogenetik dibedakan beberapa mekanisme penyebab diare, yaitu:

a.         Kurangnya absorbsi zat osmotik dari lumen usus (diare osmotik)

b.        Meningkatnya sekresi elektrolit dan air dalam lumen usus ( diare sekretorik)

c.         Naiknya permeabilititas mukosa usus

d.        Terganggunya motilitas usus

Farmakoterapi diare harus dilakukan pada pasien yang menunjukkan gejala diare yang signifikan dan terus-menerus (persisten). Obat antidiare nonspesifik biasanya tidak mengacu pada patofisiologi penyebab diare. Prinsip pengobatan ini hanya menghilangkan gejala pada kasus diare akut yang ringan. Obat-obat ini bekerja dengan menurunkan motilitas usus, dan sedapat mungkin tidak boleh diberikan pada penderita diare akut yang disebabkan mikroba.

Penggolongan obat yang digunakan untuk diare:

a.         Kemoterapeutika, untuk terapi kausal, yaitu memberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika, sulfonamida, senyawa kinolon.

b.        Obstipansia, untuk terapi simptomatis yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara:

-          Zat-zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus. Misalnya loperamid, zat-zat anti kolinergik.

-          Adstringensia, bekerja dengan menciutkan selaput lendir usus. Misalnya tanin, garam bismut dan aluminium

-          Adsorbensia bekerja dengan menjerap zat-zat beracun yang dihasilkan oleh bakteri atau dari makanan. Misalnya kabo adsorben.

c.         Spasmolitika, yaitu zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali menyebabkan nyeri perut dan diare, misalnya papaverin.

 

C. Cara Percobaan

1.      Bahan

a.       Larutan CMC Na 0,5%

b.      Bahan obat:loperamid, carbo adsorbens, diapet, enterostop.

c.       Castor oil

2.      Hewan uji: tikus putih jantan

3.      Alat

                       a.          Spuit injeksi (0,1-1ml)

                   b.            Jarum oral (ujung tumpul)

                   c.            Bekker glass

                  d.            Stop watch

                   e.            Penangas air

                    f.            Holder tikus

                   g.            Neraca ohauss

4.      Cara Kerja

                   a.            Tiap kelompok dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing mendapat 4 ekor hewan uji (mencit), 1 ekor hewan uji sebagai kontrol normal. Mencit dipuasakan selama delapan belas jam sebelum percobaan dan minum tetap diberikan.

                  b.            Kelompok I (loperamid)   : 3 hewan uji diberikan suspensi loperamid

Kelompok II (carbo adsorbens) : 3 hewan uji diberikan suspensi carbo adsorbens

      Kelompok III (diapet) : 3 hewan uji diberikan suspensi diapet

      Kelompok IV (enterostop) : 3 hewan uji diberikan suspensi enterostop

                   c.            Satu jam setelah pemberian obat, semua mencit diberikan castor oil 0,5 mL/ekor mencit secara per oral, kecuali kontrol normal.

                  d.            Dilakukan pengamatan setiap 15 menit selama 4 jam meliputi saat mulai terjadinya diare, konsistensi feses (berlendir/berair, lembek, dan normal), bobot feses, frekuensi diare dan lama terjadinya diare.

                   e.             Tabelkan hasil-hasil pengamatan Saudara dengan sebaik-baiknya.

 

D.                                                                                        Pembahasan dan Simpulan

Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini dan kemukakan pula simpulan-simpulan dan komentar Saudara.

 

E.                                                                                         Hal-hal yang perlu dipelajari

  1. Bagaimana mekanisme castor oil sehingga bias menyebabkan diare?
  2. Bagaimana mekanisme obat-obat antidiare?

 

F.            Daftar Pustaka

Gunawan, S.G. 2002. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru

Tjay, T. T. dan Kirana R. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia

       Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Bandung : Penerbit ITB

       Hardman, J.G dan Limbird, L.E. 2012. Dasar farmakologi Terapi. Jakarta : EGC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments: